Akhirnya
saya mendapat giliran menjadi ketua kobong. Jabatan yang biasa diterima oleh
setiap santri yang notabene paling lama menghuni kobong tidak peduli apakah sudah
bisa ngaji atau pun belum. Pun, saya terpilih bukan karena bisa ngaji melainkan
karena menjadi santri yang paling lama dibanding dengan lain. Terlebih lagi,
saya adalah mantan anak sekolahan yang lebih sering bolos ngajinya.
Siang
itu kobong 2a yang saya pimpin kedatangan santri baru. Dua orang nun jauh dari
Karawang. Kakak beradik yang masih lugu dan polos. Kakaknya cantik berkulit
putih, sementara adiknya manis berkulit sawo matang. Kehadiran mereka seperti
kejatuhan meteor dari luar angkasa, sebab memberi warna baru. Kobong menjadi semakin semarak dan
maju. Mereka rajin, pintar, dan solihah. Terlebih lagi kakaknya, ia kelihatan
paling cerdas, rajin, dan kreatif dalam mengaji. Sebagai ketua kobongnya, saya merasa
salut.
Bayangkan
saja setiap selesai mengaji, sang kakak
mengajak adiknya mutholaah dan mudzakaroh kitab-kitab yang telah
dipelajarinya. Bahkan teman sekobongnya pun diajak ikut serta belajar bersama.
Sang kakak juga membimbing dan memberi contoh teladan pada adiknya bagaimana
cara bergaul dengan teman-teman di Pesantren. Keadaan ini sungguh membantu meringankan beban saya sebagai ketua kobong yang jarang ada di
kobong sebab punya tugas lain yaitu harus menghuni kantor pesantren. Maka
berkat kecerdasannya itu tidak heran
kalau sang kakak dapat juara pertama di kelas ibtida dan disukai oleh teman-temannya.
Jika
tiba bulan Ramadan seperti sekarang ini, setiap saya masuk sang kakak selalu sedang
tadarus. Hari pertama Ramadan, saya melihat halaman Al-quran yang ia baca masih
halaman awal. Selang tiga hari saya masuk lagi ke kobong ternyata dia sudah
sampai di surat terakhir yaitu surat an-Naas. Demikian seterusnya. Alhasil saya tafsirkan dia khatam qur’an setiap tiga
hari sekali, alias sehari dapat 10 juz di antara jadwal ngaji kitab yang padat.
Sungguh luar biasa. Dia jarang bicara tapi ketika dia sudah mulai
bercakap-cakap topik yang selalu dibicarakanya adalah tentang ilmu. Nampaknya ia sangat faham dengan hadits rasul “Man
kaana yu’minu billaahi wal yawmil aakhiri fal yaqul khairan aw liyasmut” yang
artinya “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka
berbicaralah hal-hal yang baik atau diam”
Dua
tahun berlalu, suatu hari sang kakak sakit keras. Sampai suatu saat ia pingsan
di wc sehingga masuk bak mandi. Karena tak kunjung sembuh maka dia dijemput pulang
oleh orang tuanya. Kurang dari 40 hari, saya, yang kala itu lagi tiduran,
dikejutkan oleh sebuah surat dari tukang pos. Saat surat itu dibuka, saya
melihat sang adik. Ia mengabarkan bahwa sang kakak telah pulang keharibaan
Allah. Saya dan semua santri yang hadir saat itu tak terasa melinangkan air
mata, air mata kepiluan yang tiada tara.
Hari
berikutnya bersama Pak Kyai saya dan 3 orang teman lainnya pergi ke Karawang.
Perjalanan kesana cukup jauh, melelahkan juga menakutkan. Kami turun dari bis,
lalu naik angkaot, setelah itu untuk mencapai rumahnya kami harus melewati
aliran sungai Citarum yang sangat besar. Saya masih ingat begitu aliran air
citarum yang bergemuruh dan berwarna coklat itu mengalir sangat dahsyat. Semua
benda yang ada disekitarnya terhempas terbawa arus. Hati saya bergidig. Jantung
berdegup kencang, seumur hidup saya baru melihat fenomena seperti ini. Saya sangat
ketakutan. Namun tidak halnya dengan orang Kerawang, semua itu adalah kewajaran
saja. Dalam perasaan yang tidak menentu saya memberanikan diri bertanya kepada
seorang penjaga perahu.
“Adakah
jalan lain menuju tempat itu?” Penjaga perahu itu menjawab
“tidak ada lagi karena daerah itu dikelilingi
Citarum”. Mendengar jawaban itu kami
tertegun sejenak. Pikiran kami semua tertuju kepada aliran deras yang harus
kami lewati. Kami harus menaiki sebuah perahu. Perahu terebut akan ditarik
dengan sebuah tali dari sebrang sungai. Dengan derasnya arus sungai yang cukup
hebat itu, perahu berjalan miring seperti akan terbalik. Namun demi anak
solihah yang kami cintai itu, kami pun memberanikan diri menyebrangi derasnya
air Sungai Citarum itu. Saat menyebrang
saya pejamkan mata untuk mengurangi rasa takut. Akhirnya Alhamdulillah
kami pun sampai dengan selamat ke rumah anak solihah itu yang kini telah
menjadi almarhumah.
Terlihat
gundukan tanah yang masih di depan rumah almarhumah. Karena berada dipinggiran
sungai, gundukan tanah itu lebih nampak seperti gundukan pasir. Ibu nya
berkisah sambil menangis bahwa almarhumah meninggal dalam usia 19 tahun, dan
kalimat yang paling terakhir diucapkannya saat sakaratul maut yaitu “Salam”.
Mendengar itu kontan saja air mata kami berlinang kembali. Batin saya
menerawang teringat betapa solihahnya ia saat dia di kobong.
Kami
nginep semalam setelah puas berziarah memanjatkan do’a di atas pusaranya, Setelah
itu kami pun berkemas untuk pulang ke
Cianjur. Sebelum pulang kami dijamu terlebih dahulu. Kami disugi jamuan dengan
piring yang sudah terisi penuh dengan nasi. Kami ragu untuk makan melihat
besarnya nasi yang harus kami habiskan. Kami ingin sekali mengurangi nasi yang
ada di piring kami dengan memindahkanya sebagian nasi itu kepada bakul nasi.
Namun kami bakul nasi itu mereka pegang. Mereka menjauhkan bakul nasi itu dari
kami. Akhirnya dengan lahaula kami mulai makan, dengan susah payah kami
habiskan. Tapi apa yang terjadi saat nasi sudah hampir habis, tuan rumah
tiba-tiba saja menambahkan nasi kembali. Kami sangat terkejut. Kami tidak
sanggup melanjutkan makan kembali, perut kami sangat kenyang. Kami menyerah dan
minta maaf kepada tuan rumah tidak bisa menghabiskan nasi itu lagi.
Selesai
makan kami pamitan pulang. Sepanjang jalan saya dan teman-teman merasa pilu. Kami merasa mengalami mimpi yang
sangat menyedihkan. Kami juga sangat terkejut bahwa kampung halaman anak
solihah itu ternyata sebuah kampung yang dikelilingi Sungai Citarum. Sang anak
yang solihah itu sekarang telah pergi menuju keabadian. Ia meninggalkan sejuta
kenangan yang mengharumkan. Ia adalah Anak Sungai Citarum Hilang Mengharumkan.
* N.N

Sirik ih tiasa 10 juz sahari...hadeuuuh teu tiasa ah. di pocot moal janten adek pulung?
BalasHapusHehe,minimal sirik dl itu udh bgs
BalasHapusHehe,minimal sirik dl itu udh bgs
BalasHapusTdk akan dipocot sbb itu baik dan kebaikan
BalasHapusTdk akan dipocot sbb itu baik dan kebaikan
BalasHapus