Langsung ke konten utama

Sederhana tapi Wah


Ini tulisan Eneng Elis Aisah tentang Madrasah kami yang Ia posting diblognya: eelisaisah.blogspot.co.id Silahkan membaca!

Madrasah selalu dianggap sebelah mata, itu yang selalu saya rasakan. Dibandingkan dengan sekolah yang berada dibawah Kementerian Nasional, Sekolah Kemenag atau Madrasah masih dianggap sekolah kelas 2. Sayang sekali. Padahal hari kemarin saya menemukan hal yang berbeda di sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang saya kunjungi.

Seorang guru kelas enam sibuk membereskan ruangan kelas. Ia lalu lalang kesana kemari hendak menempatkan stiker yang telah dibuatnya semenjak malam. Dari luar kelas, Ibu guru yang satu lagi sibuk mencari tempat sampah. Ia membawa 3 tempat sampah dan memperlihatkanya kepada Guru kelas 6 tadi. Guru kelas 5 dan guru kelas 6 ini sedang sibuk membuat sebuah areal untuk praktek haji.
Sebuah meja ditarik ke tengah ruangan. Lalu meja itu diberdirikan. Kemudian meja tersebut ditutup dengan kain yang dibawa anak-anak. “Kiswah ala Muslimin”, celoteh Wali Kelas 6. Saya tersenyum lucu. Stiker miqot dipasang di dinding dekat pintu. Disana juga terdapat 2 dus sebuah minuman kemasan gelas yang diberi tanda “air Zam-zam” yang akan diberikan kepada siswa yang telah melaksanakan ihrom.

Guru kelas 6 dan 5 itu kembali berembuk. Mereka hendak membuat sebuah terowongan Mina. Ada dua buah meja yang berhadap-hadapan. Lalu satu kursi disimpan diatas kedua meja itu. Lalu sarung kembali menyelimuti kedua meja itu. Simsalabim, akhirnya dua meja tersebut disulap menjadi terowongan Mina. Dalam waktu kurang dari satu jam, ruangan kelas itu berubah menjadi Mekkah dan Madinah.

Saya bertanya kepada guru kelas 6 tersebut kemanakah para calon Jemaah haji nya. Dengan tersenyum, beliau membawa kami ke belakang sekolah. Ada 3 tenda yang terpasang disana. Para siswa berputih merah sedang sibuk dipinggir tenda. Ada yang sedang mencuci kangkung. Ada yang sedang menggoreng tahu dan tempe. Ada yang sedang membuat liwet. Ada juga yang sibuk dengan menyalakan api di tungku mereka. Para calon Jemaah haji sedang bersiap-siap di hotel mereka mengisi amunisi untuk perjalanan haji mereka.

Kami menunggu para calon Jemaah haji sampai selesai makan di ujung pelataran itu. Kita bercakap-cakap tentang kegiatan ini yang ternyata telah menjadi kegiatan annual siswa kelas 6. Saya mendengarnya begitu kagum akan kreatifitas yang guru tersebut lakukan. Saya juga begitu kagum dengan kepala madrasah yang mendukung kegiatan tersebut. Saya juga begitu amazing dengan guru-guru yang kompak yang sama-sama mendukung kegiatan tersebut.

Setelah perut mereka terasa kenyang, para calon Jemaah haji cilik diajak kesebuah ruangan. Guru kelas enam mengingatkan kembali tahapan perjalanan haji. Siswa memperhatikan dengan seksama. Lalu mereka diberi waktu lima menit untuk mengingat tahapan perjalanan yang akan mereka lakukan. Mereka nampak antusias dan bahagia.

Seleng beberapa menit mereka siap dengan baju ihram mereka. Para siswi memakai mukena bagian atas saja. Para siswa memakai mukena bagian bawah dengan posisi tangan kanan kelihatan. Ada juga siswa yang menyelendangkan kerudung ibunya agar menjadi sebuah baju ihram. Setelah siap mereka mulai lah tahap-tahap ibadah haji yang mereka pelajarai tadi.

Melihat aktifitas ini saya sangat terkagum-kagum. Untuk menjadi seorang guru yang kreatif tidak perlu mengeluarkan anggaran yang wah. Hanya dengan kesederhanaan kita bisa membuat pembelajaran menjadi lebih menawan hati siswa dan membumi. Madrasah sangat membutuhkan sosok-sosok kreatif yang ada di MI ini karena madrasah perlu dihebatkan dan dimartabatkan agar patutu disejajarkan dengan sekolah lain. Madrasah hanya memiliki kesederhanaan namun kesederhanaan ini akan menjadi sesuatu yang wah jika kita mampu menjadikan hal itu lebih wah. Semoga kreatifitas guru-guru MI ini menular ke madrasah lain khususnya ke madrasah tempat saya mengabdi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Sungai Citarum yang Hilang Mengharumkan*

Akhirnya saya mendapat giliran menjadi ketua kobong. Jabatan yang biasa diterima oleh setiap santri yang notabene paling lama menghuni kobong tidak peduli apakah sudah bisa ngaji atau pun belum. Pun, saya terpilih bukan karena bisa ngaji melainkan karena menjadi santri yang paling lama dibanding dengan lain. Terlebih lagi, saya adalah mantan anak sekolahan yang lebih sering bolos ngajinya. Siang itu kobong 2a yang saya pimpin kedatangan santri baru. Dua orang nun jauh dari Karawang. Kakak beradik yang masih lugu dan polos. Kakaknya cantik berkulit putih, sementara adiknya manis berkulit sawo matang. Kehadiran mereka seperti kejatuhan meteor dari luar angkasa, sebab memberi  warna baru. Kobong menjadi semakin semarak dan maju. Mereka rajin, pintar, dan solihah. Terlebih lagi kakaknya, ia kelihatan paling cerdas, rajin, dan kreatif dalam mengaji. Sebagai ketua kobongnya, saya merasa salut. Bayangkan saja setiap selesai mengaji,  sang kakak mengajak adiknya mutholaah dan ...

Menjadi Sahabat Muslimin

Perkenalkan nama saya Eneng Elis Aisah. Saya bukan guru MI Muslimin melainkan Guru MTs. Negeri 3 Cianjur.  Perkenalan dengan MI Muslimin ini bisa dibilang lama juga bisa dibilang baru. Sebagai seorang Kesiswaan di MTs. Negeri 3 Cianjur, saya sering mengunjungi MI untuk dalih Penerimaan Peserta Didik Baru yang saya lakukan sejak tahun 2012. Namun selama itu, hati saya belum tertambat seperti sekarang ini. Adalah Porseni Guru Tahun 2018 lah, yang membuat saya semakin mengenal MI ini. Sebagai perwakilan kecamatan Ciranjang dari cabang pidato Bahasa Inggris putri, saya bertemu dengan Bu Hj. Neneng Guru MI Muslimin yang juga atlit Kaligrafi Putri Ciranjang. Kami sering berbagi informasi sebelum kepergian juga menjadi semakin akrab setelah Porgur Kuningan itu. Bahkan sekarang saya telah diangkat menjadi adik pulung Bu Hj. Neneng yang selalu menyuruh saya ini itu khususnya berkaitan dengan teknologi. MI Muslimin sangat kecil. Namun dari kecilnya itu saya menemukan kekuatan, keh...