Langsung ke konten utama

Postingan

Anak Sungai Citarum yang Hilang Mengharumkan*

Akhirnya saya mendapat giliran menjadi ketua kobong. Jabatan yang biasa diterima oleh setiap santri yang notabene paling lama menghuni kobong tidak peduli apakah sudah bisa ngaji atau pun belum. Pun, saya terpilih bukan karena bisa ngaji melainkan karena menjadi santri yang paling lama dibanding dengan lain. Terlebih lagi, saya adalah mantan anak sekolahan yang lebih sering bolos ngajinya. Siang itu kobong 2a yang saya pimpin kedatangan santri baru. Dua orang nun jauh dari Karawang. Kakak beradik yang masih lugu dan polos. Kakaknya cantik berkulit putih, sementara adiknya manis berkulit sawo matang. Kehadiran mereka seperti kejatuhan meteor dari luar angkasa, sebab memberi  warna baru. Kobong menjadi semakin semarak dan maju. Mereka rajin, pintar, dan solihah. Terlebih lagi kakaknya, ia kelihatan paling cerdas, rajin, dan kreatif dalam mengaji. Sebagai ketua kobongnya, saya merasa salut. Bayangkan saja setiap selesai mengaji,  sang kakak mengajak adiknya mutholaah dan ...
Postingan terbaru

Tak ada Kata Terlambat dalam Belajar *

Sejak SD kelas II tulisan sambung saya suka mendapat nilai bagus dari wali kelas. Sehingga saking percayanya pada saya, ibu wali kelas tidak perlu lagi melihat tulisannya, asalkan saya yang menyodorkan buku, pasti diberi niali bagus. Fenomena ini dimanfaatkan oleh teman sebangku saya yang rupanya dia ketagihan mendapat nilai bagus jika saya yang menyodorkan bukunya ke sang wali kelas tersebut. Maka dia selalu nyuruh saya untuk menyodorkan tulisannya   kepada sang wali kelas agar mendapat nilai yang bagus. Ingin rasanya saya memberitahu kepada ibu wali kelas, namun karena takut maka jadilah saya pengecut yang pada akhirnya saya diam seribu basa. Memasuki kelas V saya mulai menggadrungi tulisan indah baik itu tulisan arab maupun tulisan latin, kebetulan waktu itu saya mempunyai wali kelas yang sangat bagus tulisan latinnya ditambah mempunyai guru agama yang bagus tulisan arab dan latinnya. Diam-diam saya meniru tulisan guru-guru saya tersebut, dan akhirnya saat di MTs saya selalu...

Sederhana tapi Wah

Ini tulisan Eneng Elis Aisah tentang Madrasah kami yang Ia posting diblognya: e elisaisah.blogspot.co.id Silahkan membaca! Madrasah selalu dianggap sebelah mata, itu yang selalu saya rasakan. Dibandingkan dengan sekolah yang berada dibawah Kementerian Nasional, Sekolah Kemenag atau Madrasah masih dianggap sekolah kelas 2. Sayang sekali. Padahal hari kemarin saya menemukan hal yang berbeda di sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang saya kunjungi. Seorang guru kelas enam sibuk membereskan ruangan kelas. Ia lalu lalang kesana kemari hendak menempatkan stiker yang telah dibuatnya semenjak malam. Dari luar kelas, Ibu guru yang satu lagi sibuk mencari tempat sampah. Ia membawa 3 tempat sampah dan memperlihatkanya kepada Guru kelas 6 tadi. Guru kelas 5 dan guru kelas 6 ini sedang sibuk membuat sebuah areal untuk praktek haji. Sebuah meja ditarik ke tengah ruangan. Lalu meja itu diberdirikan. Kemudian meja tersebut ditutup dengan kain yang dibawa anak-anak. “Kiswah ala Muslimin”, celote...

Guru Berkualitas

Membaca tulisan Ibu Eneng Elis Aisah, M.Pd dalam karyanya yang berjudul “ MenjadiSahabat Muslimin ”, dalam tulisan tersebut beliau menyebutkan bagi sebuah  kualitas di MI Muslimin jauh tak jadi masalah. Kami sebagai guru-guru MI Muslimin merasa tersanjung, sekaligus dituntut harus merealisasikan arti dari kualitas tersebut.           Dalam hal ini  saya tertarik untuk mencoba membahas Guru Berkualitas secara singkat sebab kalau diperpanjang pun jenuh membacanya. Lain halnya kalau membaca WA panjang pun betah, tapi kalau membaca buku panjang dan tebal ogah. Menurut Bahasa Sunda guru singkatan dari digugu jeung ditiru, artinya segala performan  guru akan  diikuti dan diteladan oleh siswanya. Oleh sebab itu jadilah guru yang super atau berkualitas. Menjadi guru bukanlah profesi yang mudah. Menurut Abdul Rahmat, S.sos, guru adalah profesi yang penuh dengan tantangan, kreativitas, dan keteguhan. Betapa tidak? Setiap ...

Menjadi Sahabat Muslimin

Perkenalkan nama saya Eneng Elis Aisah. Saya bukan guru MI Muslimin melainkan Guru MTs. Negeri 3 Cianjur.  Perkenalan dengan MI Muslimin ini bisa dibilang lama juga bisa dibilang baru. Sebagai seorang Kesiswaan di MTs. Negeri 3 Cianjur, saya sering mengunjungi MI untuk dalih Penerimaan Peserta Didik Baru yang saya lakukan sejak tahun 2012. Namun selama itu, hati saya belum tertambat seperti sekarang ini. Adalah Porseni Guru Tahun 2018 lah, yang membuat saya semakin mengenal MI ini. Sebagai perwakilan kecamatan Ciranjang dari cabang pidato Bahasa Inggris putri, saya bertemu dengan Bu Hj. Neneng Guru MI Muslimin yang juga atlit Kaligrafi Putri Ciranjang. Kami sering berbagi informasi sebelum kepergian juga menjadi semakin akrab setelah Porgur Kuningan itu. Bahkan sekarang saya telah diangkat menjadi adik pulung Bu Hj. Neneng yang selalu menyuruh saya ini itu khususnya berkaitan dengan teknologi. MI Muslimin sangat kecil. Namun dari kecilnya itu saya menemukan kekuatan, keh...

PPDB 2018

Bismillahirrohmaanirrohiim. Tak terasa sudah di penghujung tahun dalam menjalani lika-liku kegiatan belajar dan mengajar 2017/2018 di MI Muslimin. Segala bentuk kegiatan dari mulai KBM, ekstrakurikuler, PHBI, bimbingan olimpiade Kompetisi Sains Madrasah (KSM), Pekan Olahraga Madrasah AKSIOMA, dll. Semua kegiatan hebatnya dilakukan dengan penuh SEMANGAT walau banyak hambatan dalam pelaksanaannya.   MI Muslimin kembali membuka penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun 2018/2019 sejak 01 Mei 2018 lalu. MI Muslimin sebagai madrasah/sekolah di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia hadir dengan program pendidikan secara holistik, dan mengedepankan aspek pendidikan agama bagi para peserta didik sebagai nilai plus dalam membantu orang tua memenuhi tuntutan pendidikan bagi putra-putrinya.  Keunggulan prestasi Akademik dan Non Akademik siswa-siswi MI Muslimin juga sangat membanggakan, baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun tingkat provinsi jawa barat. Siswa-siswi ...