Akhirnya saya mendapat giliran menjadi ketua kobong. Jabatan yang biasa diterima oleh setiap santri yang notabene paling lama menghuni kobong tidak peduli apakah sudah bisa ngaji atau pun belum. Pun, saya terpilih bukan karena bisa ngaji melainkan karena menjadi santri yang paling lama dibanding dengan lain. Terlebih lagi, saya adalah mantan anak sekolahan yang lebih sering bolos ngajinya. Siang itu kobong 2a yang saya pimpin kedatangan santri baru. Dua orang nun jauh dari Karawang. Kakak beradik yang masih lugu dan polos. Kakaknya cantik berkulit putih, sementara adiknya manis berkulit sawo matang. Kehadiran mereka seperti kejatuhan meteor dari luar angkasa, sebab memberi warna baru. Kobong menjadi semakin semarak dan maju. Mereka rajin, pintar, dan solihah. Terlebih lagi kakaknya, ia kelihatan paling cerdas, rajin, dan kreatif dalam mengaji. Sebagai ketua kobongnya, saya merasa salut. Bayangkan saja setiap selesai mengaji, sang kakak mengajak adiknya mutholaah dan ...
Sejak SD kelas II tulisan sambung saya suka mendapat nilai bagus dari wali kelas. Sehingga saking percayanya pada saya, ibu wali kelas tidak perlu lagi melihat tulisannya, asalkan saya yang menyodorkan buku, pasti diberi niali bagus. Fenomena ini dimanfaatkan oleh teman sebangku saya yang rupanya dia ketagihan mendapat nilai bagus jika saya yang menyodorkan bukunya ke sang wali kelas tersebut. Maka dia selalu nyuruh saya untuk menyodorkan tulisannya kepada sang wali kelas agar mendapat nilai yang bagus. Ingin rasanya saya memberitahu kepada ibu wali kelas, namun karena takut maka jadilah saya pengecut yang pada akhirnya saya diam seribu basa. Memasuki kelas V saya mulai menggadrungi tulisan indah baik itu tulisan arab maupun tulisan latin, kebetulan waktu itu saya mempunyai wali kelas yang sangat bagus tulisan latinnya ditambah mempunyai guru agama yang bagus tulisan arab dan latinnya. Diam-diam saya meniru tulisan guru-guru saya tersebut, dan akhirnya saat di MTs saya selalu...