Langsung ke konten utama

Anak Sungai Citarum yang Hilang Mengharumkan*

Akhirnya saya mendapat giliran menjadi ketua kobong. Jabatan yang biasa diterima oleh setiap santri yang notabene paling lama menghuni kobong tidak peduli apakah sudah bisa ngaji atau pun belum. Pun, saya terpilih bukan karena bisa ngaji melainkan karena menjadi santri yang paling lama dibanding dengan lain. Terlebih lagi, saya adalah mantan anak sekolahan yang lebih sering bolos ngajinya.
Siang itu kobong 2a yang saya pimpin kedatangan santri baru. Dua orang nun jauh dari Karawang. Kakak beradik yang masih lugu dan polos. Kakaknya cantik berkulit putih, sementara adiknya manis berkulit sawo matang. Kehadiran mereka seperti kejatuhan meteor dari luar angkasa, sebab memberi  warna baru. Kobong menjadi semakin semarak dan maju. Mereka rajin, pintar, dan solihah. Terlebih lagi kakaknya, ia kelihatan paling cerdas, rajin, dan kreatif dalam mengaji. Sebagai ketua kobongnya, saya merasa salut.
Bayangkan saja setiap selesai mengaji,  sang kakak mengajak adiknya mutholaah dan mudzakaroh kitab-kitab yang telah dipelajarinya. Bahkan teman sekobongnya pun diajak ikut serta belajar bersama. Sang kakak juga membimbing dan memberi contoh teladan pada adiknya bagaimana cara bergaul dengan teman-teman di Pesantren. Keadaan ini sungguh  membantu meringankan beban saya sebagai ketua kobong yang jarang ada di kobong sebab punya tugas lain yaitu harus menghuni kantor pesantren. Maka berkat  kecerdasannya itu tidak heran kalau sang kakak dapat juara pertama di kelas ibtida dan disukai oleh teman-temannya.
Jika tiba bulan Ramadan seperti sekarang ini, setiap saya masuk sang kakak selalu sedang tadarus. Hari pertama Ramadan, saya melihat halaman Al-quran yang ia baca masih halaman awal. Selang tiga hari saya masuk lagi ke kobong ternyata dia sudah sampai di surat terakhir yaitu surat an-Naas. Demikian seterusnya. Alhasil  saya tafsirkan dia khatam qur’an setiap tiga hari sekali, alias sehari dapat 10 juz di antara jadwal ngaji kitab yang padat. Sungguh luar biasa. Dia jarang bicara tapi ketika dia sudah mulai bercakap-cakap topik yang selalu dibicarakanya adalah tentang ilmu. Nampaknya ia sangat faham dengan hadits rasul “Man kaana yu’minu billaahi wal yawmil aakhiri fal yaqul khairan aw liyasmut” yang artinya “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbicaralah hal-hal yang baik atau diam”
Dua tahun berlalu, suatu hari sang kakak sakit keras. Sampai suatu saat ia pingsan di wc sehingga masuk bak mandi. Karena tak kunjung sembuh maka dia dijemput pulang oleh orang tuanya. Kurang dari 40 hari, saya, yang kala itu lagi tiduran, dikejutkan oleh sebuah surat dari tukang pos. Saat surat itu dibuka, saya melihat sang adik. Ia mengabarkan bahwa sang kakak telah pulang keharibaan Allah. Saya dan semua santri yang hadir saat itu tak terasa melinangkan air mata, air mata kepiluan yang tiada tara.
Hari berikutnya bersama Pak Kyai saya dan 3 orang teman lainnya pergi ke Karawang. Perjalanan kesana cukup jauh, melelahkan juga menakutkan. Kami turun dari bis, lalu naik angkaot, setelah itu untuk mencapai rumahnya kami harus melewati aliran sungai Citarum yang sangat besar. Saya masih ingat begitu aliran air citarum yang bergemuruh dan berwarna coklat itu mengalir sangat dahsyat. Semua benda yang ada disekitarnya terhempas terbawa arus. Hati saya bergidig. Jantung berdegup kencang, seumur hidup saya baru melihat fenomena seperti ini. Saya sangat ketakutan. Namun tidak halnya dengan orang Kerawang, semua itu adalah kewajaran saja. Dalam perasaan yang tidak menentu saya memberanikan diri bertanya kepada seorang penjaga perahu.
“Adakah jalan lain menuju tempat itu?” Penjaga perahu itu menjawab
 “tidak ada lagi karena daerah itu dikelilingi Citarum”.  Mendengar jawaban itu kami tertegun sejenak. Pikiran kami semua tertuju kepada aliran deras yang harus kami lewati. Kami harus menaiki sebuah perahu. Perahu terebut akan ditarik dengan sebuah tali dari sebrang sungai. Dengan derasnya arus sungai yang cukup hebat itu, perahu berjalan miring seperti akan terbalik. Namun demi anak solihah yang kami cintai itu, kami pun memberanikan diri menyebrangi derasnya air Sungai Citarum itu. Saat menyebrang  saya pejamkan mata untuk mengurangi rasa takut. Akhirnya Alhamdulillah kami pun sampai dengan selamat ke rumah anak solihah itu yang kini telah menjadi almarhumah.
Terlihat gundukan tanah yang masih di depan rumah almarhumah. Karena berada dipinggiran sungai, gundukan tanah itu lebih nampak seperti gundukan pasir. Ibu nya berkisah sambil menangis bahwa almarhumah meninggal dalam usia 19 tahun, dan kalimat yang paling terakhir diucapkannya saat sakaratul maut yaitu “Salam”. Mendengar itu kontan saja air mata kami berlinang kembali. Batin saya menerawang teringat betapa solihahnya ia saat dia di kobong.
Kami nginep semalam setelah puas berziarah memanjatkan do’a di atas pusaranya, Setelah itu kami pun  berkemas untuk pulang ke Cianjur. Sebelum pulang kami dijamu terlebih dahulu. Kami disugi jamuan dengan piring yang sudah terisi penuh dengan nasi. Kami ragu untuk makan melihat besarnya nasi yang harus kami habiskan. Kami ingin sekali mengurangi nasi yang ada di piring kami dengan memindahkanya sebagian nasi itu kepada bakul nasi. Namun kami bakul nasi itu mereka pegang. Mereka menjauhkan bakul nasi itu dari kami. Akhirnya dengan lahaula kami mulai makan, dengan susah payah kami habiskan. Tapi apa yang terjadi saat nasi sudah hampir habis, tuan rumah tiba-tiba saja menambahkan nasi kembali. Kami sangat terkejut. Kami tidak sanggup melanjutkan makan kembali, perut kami sangat kenyang. Kami menyerah dan minta maaf kepada tuan rumah tidak bisa menghabiskan nasi itu lagi.

Selesai makan kami pamitan pulang. Sepanjang jalan saya dan teman-teman  merasa pilu. Kami merasa mengalami mimpi yang sangat menyedihkan. Kami juga sangat terkejut bahwa kampung halaman anak solihah itu ternyata sebuah kampung yang dikelilingi Sungai Citarum. Sang anak yang solihah itu sekarang telah pergi menuju keabadian. Ia meninggalkan sejuta kenangan yang mengharumkan. Ia adalah Anak Sungai Citarum Hilang Mengharumkan.

* N.N

Komentar

  1. Sirik ih tiasa 10 juz sahari...hadeuuuh teu tiasa ah. di pocot moal janten adek pulung?

    BalasHapus
  2. Tdk akan dipocot sbb itu baik dan kebaikan

    BalasHapus
  3. Tdk akan dipocot sbb itu baik dan kebaikan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederhana tapi Wah

Ini tulisan Eneng Elis Aisah tentang Madrasah kami yang Ia posting diblognya: e elisaisah.blogspot.co.id Silahkan membaca! Madrasah selalu dianggap sebelah mata, itu yang selalu saya rasakan. Dibandingkan dengan sekolah yang berada dibawah Kementerian Nasional, Sekolah Kemenag atau Madrasah masih dianggap sekolah kelas 2. Sayang sekali. Padahal hari kemarin saya menemukan hal yang berbeda di sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang saya kunjungi. Seorang guru kelas enam sibuk membereskan ruangan kelas. Ia lalu lalang kesana kemari hendak menempatkan stiker yang telah dibuatnya semenjak malam. Dari luar kelas, Ibu guru yang satu lagi sibuk mencari tempat sampah. Ia membawa 3 tempat sampah dan memperlihatkanya kepada Guru kelas 6 tadi. Guru kelas 5 dan guru kelas 6 ini sedang sibuk membuat sebuah areal untuk praktek haji. Sebuah meja ditarik ke tengah ruangan. Lalu meja itu diberdirikan. Kemudian meja tersebut ditutup dengan kain yang dibawa anak-anak. “Kiswah ala Muslimin”, celote...

Menjadi Sahabat Muslimin

Perkenalkan nama saya Eneng Elis Aisah. Saya bukan guru MI Muslimin melainkan Guru MTs. Negeri 3 Cianjur.  Perkenalan dengan MI Muslimin ini bisa dibilang lama juga bisa dibilang baru. Sebagai seorang Kesiswaan di MTs. Negeri 3 Cianjur, saya sering mengunjungi MI untuk dalih Penerimaan Peserta Didik Baru yang saya lakukan sejak tahun 2012. Namun selama itu, hati saya belum tertambat seperti sekarang ini. Adalah Porseni Guru Tahun 2018 lah, yang membuat saya semakin mengenal MI ini. Sebagai perwakilan kecamatan Ciranjang dari cabang pidato Bahasa Inggris putri, saya bertemu dengan Bu Hj. Neneng Guru MI Muslimin yang juga atlit Kaligrafi Putri Ciranjang. Kami sering berbagi informasi sebelum kepergian juga menjadi semakin akrab setelah Porgur Kuningan itu. Bahkan sekarang saya telah diangkat menjadi adik pulung Bu Hj. Neneng yang selalu menyuruh saya ini itu khususnya berkaitan dengan teknologi. MI Muslimin sangat kecil. Namun dari kecilnya itu saya menemukan kekuatan, keh...