Akhirnya saya mendapat giliran menjadi ketua kobong. Jabatan yang biasa diterima oleh setiap santri yang notabene paling lama menghuni kobong tidak peduli apakah sudah bisa ngaji atau pun belum. Pun, saya terpilih bukan karena bisa ngaji melainkan karena menjadi santri yang paling lama dibanding dengan lain. Terlebih lagi, saya adalah mantan anak sekolahan yang lebih sering bolos ngajinya. Siang itu kobong 2a yang saya pimpin kedatangan santri baru. Dua orang nun jauh dari Karawang. Kakak beradik yang masih lugu dan polos. Kakaknya cantik berkulit putih, sementara adiknya manis berkulit sawo matang. Kehadiran mereka seperti kejatuhan meteor dari luar angkasa, sebab memberi warna baru. Kobong menjadi semakin semarak dan maju. Mereka rajin, pintar, dan solihah. Terlebih lagi kakaknya, ia kelihatan paling cerdas, rajin, dan kreatif dalam mengaji. Sebagai ketua kobongnya, saya merasa salut. Bayangkan saja setiap selesai mengaji, sang kakak mengajak adiknya mutholaah dan ...