Sejak
SD kelas II tulisan sambung saya suka mendapat nilai bagus dari wali kelas.
Sehingga saking percayanya pada saya, ibu wali kelas tidak perlu lagi melihat
tulisannya, asalkan saya yang menyodorkan buku, pasti diberi niali bagus.
Fenomena ini dimanfaatkan oleh teman sebangku saya yang rupanya dia ketagihan
mendapat nilai bagus jika saya yang menyodorkan bukunya ke sang wali kelas
tersebut. Maka dia selalu nyuruh saya untuk menyodorkan tulisannya kepada sang wali kelas agar mendapat nilai
yang bagus. Ingin rasanya saya memberitahu kepada ibu wali kelas, namun karena
takut maka jadilah saya pengecut yang pada akhirnya saya diam seribu basa.
Memasuki kelas V
saya mulai menggadrungi tulisan indah baik itu tulisan arab maupun tulisan
latin, kebetulan waktu itu saya mempunyai wali kelas yang sangat bagus tulisan
latinnya ditambah mempunyai guru agama yang bagus tulisan arab dan latinnya.
Diam-diam saya meniru tulisan guru-guru saya tersebut, dan akhirnya saat di MTs
saya selalu menjuarai menulis di kelas dan antar kelas, dan puncaknya di kelas
III saya selalu disuruh menulis slogan atau kata mutiara untuk dipampang di
depan kelas.
Saat masuk PGAN
rupanya Allah memberikan jalan agar saya lebih mengenal lagi khat arab. Saya
kebetulan sekelas dengan seorang yang jago kaligrafi bahkan dia sudah beberapa
kali menjuarai tingkat pelajar. Jika pelajaran sedang kosong dia suka
mengajarkan kaligrafi kepada kami
teman-teman sekelasnya. Dari situ saya mulai mengenal kaligrafi walau masih
dangkal sekali.
Keluar PGAN saya
masih tetap di Pesantren, di Pesanten itu karena dianggap paling bagus tulisan
saya, maka saya disuruh mengajar kaligrafi kepada adik-adik kelas saya, tapi semua
itu belum cukup untuk saya berani ikut lomba kaligrafi tingkat desa sekali pun
walau sering disuruh ikut. Akhirnya karena selalu dituntut ikut lomba oleh
pesantren, saya memutuskan untuk memperdalam
kaligrafi. Maka lewat surat saya meminta saran kepada teman PGAN yang
jago kaligrafi itu tentang bagaimana caranya belajar kaligrafi. Atas petunjuk
dia saya disuruh berguru ke Pesantren Attanwir Cikukulu Nagrak Cianjur.
Walau sedikit
ragu karena saya merasa sudah telat untuk belajar kaligrafi/khat akhirnya saya
pergi juga berguru khat ke Pesantren Attanwir Cikukulu. Saat datang saya diterima
oleh sang kyai dan istrinya dengan ramah. Setelah mengutarakan maksud, saya
bertanya kepada sang kyai “Apakah saya sudah telat untuk belajar khat mengingat
saya saat itu sudah berusia 23 tahun”, sang kyai menjawab dengan bijak “Dalam
belajar tidak ada kata terlambat”. Mendengar itu bagaikan angin segar yang datang
menerpa hati saya, kontan saja semangat belajar khat saya membara dalam seluruh
jiwa dan raga.
Mulai saat itu
saya dengan tekun belajar khat, mula-mula saya nginap selama seminggu, tapi
karena sesautu dan lain hal akhirnya saya minta untuk belajar di rumah, dan
seminggu sekali setiap hari Jum’at saya akan datang setor tulisan kepada sang kyai,
dan sang kyai pun mengizinkan. Maka semenjak saat itu setiap hari Jum’at saya
datang ke pesantren membawa setoran kadang pas datang sang kyai yang kala itu
saya menyebutnya Aah sedang tidur, maka dengan mata masih meram dan
berkedip-kedip kesilauan Aah mulai meriksa tulisan saya sambil berkata “Wih
tulisannya bagus banget, ada harapan jadi juara se-kolong ayam eh salah se-RT”,
mendengar itu saya tersipu malu, tapi juga semakin bertekad untuk lebih rajin
lagi berharap kata-kata Aah tadi berubah menjadi juara se-kolong langit alias
juara dunia.
Tujuh kali
secara rutin saya setor tulian kepada Aah setiap hari Jum’at, walau perjalanan
cukup jauh sampai naik mobil umumnya juga 4 kali, tapi saya jalani dengan
sabar. Ditambah lagi setiap berangkat sama ema (ibu kandung) disuruh membawa timun
kurang lebih seberat 10 kg sbb kesukaan Aah, kalau tidak dibawa ema suka marah.
Hal ini membuat saya cukup kesulitan hingga suatu hari sebab ribet bawa timun,
saya lupa bawa peralatan kaligrafi padahal sudah sampai Ciranjang, akhirnya
saya harus pulang lagi untuk ngambil peralatan kaligrafi dan timun dititipkan
di Ciranjang. Demikianlah ahirnya selesailah perjalanan latihan saya ke Aah
sebanyak 7 kali.
Ternyata apa
yang dikatakan oleh Aah benar, bahwa tidak ada kata terlambat dalam belajar, sebab
belajar itu tidak ada batasnya sesuai sabda Nabi Saw bahwa kita haus mencari
ilmu dari buaian samapi liang lahat. Buktinya semenjak itu saya meneruskan latihan
di rumah secara otodidak dengan mencontoh pada buku-buku panduan kaligrafi, dan
hasilnya Alhamdulillah walaupun belajar nulisnya sudah tuir tapi saat lomba
bisa bersaing dengan anak-anak muda bahkan terkadang bisa mengalahkan mereka,
sampai akhirnya alhamdulillah saya bisa juara nasional.
*NN
*NN
Mantapppp
BalasHapusHaturnuhun hehe
BalasHapusTeruskan menulis Teh Haj
BalasHapus