Langsung ke konten utama

Menjadi Sahabat Muslimin

Perkenalkan nama saya Eneng Elis Aisah. Saya bukan guru MI Muslimin melainkan Guru MTs. Negeri 3 Cianjur.  Perkenalan dengan MI Muslimin ini bisa dibilang lama juga bisa dibilang baru. Sebagai seorang Kesiswaan di MTs. Negeri 3 Cianjur, saya sering mengunjungi MI untuk dalih Penerimaan Peserta Didik Baru yang saya lakukan sejak tahun 2012. Namun selama itu, hati saya belum tertambat seperti sekarang ini.

Adalah Porseni Guru Tahun 2018 lah, yang membuat saya semakin mengenal MI ini. Sebagai perwakilan kecamatan Ciranjang dari cabang pidato Bahasa Inggris putri, saya bertemu dengan Bu Hj. Neneng Guru MI Muslimin yang juga atlit Kaligrafi Putri Ciranjang. Kami sering berbagi informasi sebelum kepergian juga menjadi semakin akrab setelah Porgur Kuningan itu. Bahkan sekarang saya telah diangkat menjadi adik pulung Bu Hj. Neneng yang selalu menyuruh saya ini itu khususnya berkaitan dengan teknologi.

MI Muslimin sangat kecil. Namun dari kecilnya itu saya menemukan kekuatan, kehebatan dan ketelatenan. Ini bukan hoax, tapi kenyataan yang saya rasakan dari alumni MI Muslimin yang melanjutkan ke MTs kami. Bererapa alumni Muslimin yang saya cintai seperti Cartika, Azri, Wahyu, Sipa Buana, Shifa Fauziah Rachman dan banyak lagi. Mereka memberi warna dominan bagi MTs kami. Tentu karena didikan dan bimbingan Guru-guru MI-nyalah mereka menjadi pribadi yang sangat baik sekarang.

Mendidik siswa di level terbawah adalah tantangan tersendiri namun tahap inilah yang akan menjadi penentu keberhasilan pendidikan lanjutan. Dan MI Muslimin telah berhasil menciptakanya. Saya suatu saat sangat ingin menyekolahkan anak pertama saya disana. Walau jarak Cibanteng– Pangarengan cukup jauh tapi bagi sebuah kualitas, hal itu tidak menjadi masalah. Karena saya sangat meyakini anak saya disana kelak mendapat bimbingan dan pendidikan dari guru-guru yang telaten seperti Bu Alis, Bu Isma dan Bu Ai. Anak saya juga akan mendapatkan keceriaan seperti Bu Rinrin dan Bu Elis dan saya berharap anak saya kelak mendapat kecerdasan dan keterampilan yang mumpuni layaknya Bu Hj. Neneng, Pak Khairul dan Pak Dedi. Serta memiliki kebijaksanaan seperti Bapak Kepala MI Muslimin, Pak Amar.


Sebagai penutup saya sangat berharap MI Muslimin semakin maju, semakin banyak muridnya dan semakin menambah lulusannya yang masuk ke MTs. Negeri 3 Cianjur. Sehingga persahabatan Muslimin dan MTs. N 3 semakin erat layaknya adik dan kakak, yang siap membantu apapun demi kemajuan Madrasah. 

Komentar

  1. Menjadi sahabat sejati yg dilandasi ketulusan hati.

    BalasHapus
  2. Semoga kerjasama dalam mendidik generasi penerus bangsa terus terjaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Insya Allah selalu siap selama bisa

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederhana tapi Wah

Ini tulisan Eneng Elis Aisah tentang Madrasah kami yang Ia posting diblognya: e elisaisah.blogspot.co.id Silahkan membaca! Madrasah selalu dianggap sebelah mata, itu yang selalu saya rasakan. Dibandingkan dengan sekolah yang berada dibawah Kementerian Nasional, Sekolah Kemenag atau Madrasah masih dianggap sekolah kelas 2. Sayang sekali. Padahal hari kemarin saya menemukan hal yang berbeda di sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang saya kunjungi. Seorang guru kelas enam sibuk membereskan ruangan kelas. Ia lalu lalang kesana kemari hendak menempatkan stiker yang telah dibuatnya semenjak malam. Dari luar kelas, Ibu guru yang satu lagi sibuk mencari tempat sampah. Ia membawa 3 tempat sampah dan memperlihatkanya kepada Guru kelas 6 tadi. Guru kelas 5 dan guru kelas 6 ini sedang sibuk membuat sebuah areal untuk praktek haji. Sebuah meja ditarik ke tengah ruangan. Lalu meja itu diberdirikan. Kemudian meja tersebut ditutup dengan kain yang dibawa anak-anak. “Kiswah ala Muslimin”, celote...

Anak Sungai Citarum yang Hilang Mengharumkan*

Akhirnya saya mendapat giliran menjadi ketua kobong. Jabatan yang biasa diterima oleh setiap santri yang notabene paling lama menghuni kobong tidak peduli apakah sudah bisa ngaji atau pun belum. Pun, saya terpilih bukan karena bisa ngaji melainkan karena menjadi santri yang paling lama dibanding dengan lain. Terlebih lagi, saya adalah mantan anak sekolahan yang lebih sering bolos ngajinya. Siang itu kobong 2a yang saya pimpin kedatangan santri baru. Dua orang nun jauh dari Karawang. Kakak beradik yang masih lugu dan polos. Kakaknya cantik berkulit putih, sementara adiknya manis berkulit sawo matang. Kehadiran mereka seperti kejatuhan meteor dari luar angkasa, sebab memberi  warna baru. Kobong menjadi semakin semarak dan maju. Mereka rajin, pintar, dan solihah. Terlebih lagi kakaknya, ia kelihatan paling cerdas, rajin, dan kreatif dalam mengaji. Sebagai ketua kobongnya, saya merasa salut. Bayangkan saja setiap selesai mengaji,  sang kakak mengajak adiknya mutholaah dan ...