Langsung ke konten utama

Guru Berkualitas

Membaca tulisan Ibu Eneng Elis Aisah, M.Pd dalam karyanya yang berjudul “MenjadiSahabat Muslimin”, dalam tulisan tersebut beliau menyebutkan bagi sebuah  kualitas di MI Muslimin jauh tak jadi masalah. Kami sebagai guru-guru MI Muslimin merasa tersanjung, sekaligus dituntut harus merealisasikan arti dari kualitas tersebut.
          Dalam hal ini  saya tertarik untuk mencoba membahas Guru Berkualitas secara singkat sebab kalau diperpanjang pun jenuh membacanya. Lain halnya kalau membaca WA panjang pun betah, tapi kalau membaca buku panjang dan tebal ogah.
Menurut Bahasa Sunda guru singkatan dari digugu jeung ditiru, artinya segala performan  guru akan  diikuti dan diteladan oleh siswanya. Oleh sebab itu jadilah guru yang super atau berkualitas.
Menjadi guru bukanlah profesi yang mudah. Menurut Abdul Rahmat, S.sos, guru adalah profesi yang penuh dengan tantangan, kreativitas, dan keteguhan. Betapa tidak? Setiap siswa yang dihadapi datang dari beragam latar belakang, kemampuan dasar, bakat, tantangan, dan pengalaman.
Sebagai perisai menghadapi keberagaman siswa tersebut, guru dituntut memiliki 4 kompetensi yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
Membentuk guru berkualitas memerlukan banyak factor, yang apabila digabungkan dengan baik, akan menghasilkan kelas yang sangat efektif dan siswa yang produktif. Salah satu fakror tersebut adalah guru harus pandai memilih metode pembelajaran. Sebab metode akan menentukan sukses tidaknya tujuan pendidikan.
Nabi Saw bersabda “Bagi segala sesuatu itu ada metodenya/caranya. Dan metode masuk surga adalah ilmu”. (HR. Dailami).
Metode mengajar banyak macamnya, diantaranya yaitu metode: proyek, eksperimen, penugasan, diskusi, sosiodrama, problem solving, karya wisata, tanya jawab, latihan, ceramah, mauidzah (nasehat), bilkalami shorih (perkataan jelas), bikudwati solihah (keteladanan), targhib (himbauan), tarhib (menakut-nakuti), khiwar (percakapan), tadarruj (berangsur), gradual (berulang), humor, qishah (cerita), dan lain-lain.
Guru berkualitas harus dapat memadukan antara metode yang satu dan yang lainnya agar tidak boring.

Sekian semoga bermanfaat. Amin.


Komentar

  1. Guru tdk hnya sbg pengajar,tpi jg sbg pembimbing.Mengajar hny menyampaikan ilmu spy anak jadi tahu.Sedangkan membimbing lebih dari itu.

    BalasHapus
  2. In Action...
    Talk less do more...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederhana tapi Wah

Ini tulisan Eneng Elis Aisah tentang Madrasah kami yang Ia posting diblognya: e elisaisah.blogspot.co.id Silahkan membaca! Madrasah selalu dianggap sebelah mata, itu yang selalu saya rasakan. Dibandingkan dengan sekolah yang berada dibawah Kementerian Nasional, Sekolah Kemenag atau Madrasah masih dianggap sekolah kelas 2. Sayang sekali. Padahal hari kemarin saya menemukan hal yang berbeda di sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang saya kunjungi. Seorang guru kelas enam sibuk membereskan ruangan kelas. Ia lalu lalang kesana kemari hendak menempatkan stiker yang telah dibuatnya semenjak malam. Dari luar kelas, Ibu guru yang satu lagi sibuk mencari tempat sampah. Ia membawa 3 tempat sampah dan memperlihatkanya kepada Guru kelas 6 tadi. Guru kelas 5 dan guru kelas 6 ini sedang sibuk membuat sebuah areal untuk praktek haji. Sebuah meja ditarik ke tengah ruangan. Lalu meja itu diberdirikan. Kemudian meja tersebut ditutup dengan kain yang dibawa anak-anak. “Kiswah ala Muslimin”, celote...

Anak Sungai Citarum yang Hilang Mengharumkan*

Akhirnya saya mendapat giliran menjadi ketua kobong. Jabatan yang biasa diterima oleh setiap santri yang notabene paling lama menghuni kobong tidak peduli apakah sudah bisa ngaji atau pun belum. Pun, saya terpilih bukan karena bisa ngaji melainkan karena menjadi santri yang paling lama dibanding dengan lain. Terlebih lagi, saya adalah mantan anak sekolahan yang lebih sering bolos ngajinya. Siang itu kobong 2a yang saya pimpin kedatangan santri baru. Dua orang nun jauh dari Karawang. Kakak beradik yang masih lugu dan polos. Kakaknya cantik berkulit putih, sementara adiknya manis berkulit sawo matang. Kehadiran mereka seperti kejatuhan meteor dari luar angkasa, sebab memberi  warna baru. Kobong menjadi semakin semarak dan maju. Mereka rajin, pintar, dan solihah. Terlebih lagi kakaknya, ia kelihatan paling cerdas, rajin, dan kreatif dalam mengaji. Sebagai ketua kobongnya, saya merasa salut. Bayangkan saja setiap selesai mengaji,  sang kakak mengajak adiknya mutholaah dan ...

Menjadi Sahabat Muslimin

Perkenalkan nama saya Eneng Elis Aisah. Saya bukan guru MI Muslimin melainkan Guru MTs. Negeri 3 Cianjur.  Perkenalan dengan MI Muslimin ini bisa dibilang lama juga bisa dibilang baru. Sebagai seorang Kesiswaan di MTs. Negeri 3 Cianjur, saya sering mengunjungi MI untuk dalih Penerimaan Peserta Didik Baru yang saya lakukan sejak tahun 2012. Namun selama itu, hati saya belum tertambat seperti sekarang ini. Adalah Porseni Guru Tahun 2018 lah, yang membuat saya semakin mengenal MI ini. Sebagai perwakilan kecamatan Ciranjang dari cabang pidato Bahasa Inggris putri, saya bertemu dengan Bu Hj. Neneng Guru MI Muslimin yang juga atlit Kaligrafi Putri Ciranjang. Kami sering berbagi informasi sebelum kepergian juga menjadi semakin akrab setelah Porgur Kuningan itu. Bahkan sekarang saya telah diangkat menjadi adik pulung Bu Hj. Neneng yang selalu menyuruh saya ini itu khususnya berkaitan dengan teknologi. MI Muslimin sangat kecil. Namun dari kecilnya itu saya menemukan kekuatan, keh...